Terlalu Muda
Assalamu'alaikum para mujahid Islam yang senantiasa berada dalam
naungan kasih sayang Allah swt. Bagaimana hari ini? Semoga segala sesuatunya
baik dan akan tetap baik. Saat ini aku hanya sekedar ingin berbagi kisah
singkat dalam kehidupan gadis asing dalam balik khimarnya, tepatnya kukhususkan
bagi para akhwat yang menjaga dirinya secara totalitas.
***
Tak mudah memang, hanya sekedar mengucap satu atau dua buah kata
pun terdengar sangat terbata-bata tatkala beberapa kalimat yang dibangun deretan kata tak sepadan dan terkesan janggal.
Baginya cukup sulit tuk menunjukkan kata demi kata yang terdampar di dasar
hatinya, ianya hanya menuangkan dalam sebuah tulisan.
"Sungguh! Ini tak semudah yang kau fikir." ucapnya geram
dalam hati.
Gadis asing itu memang terbiasa menutup diri akan dunia luar
hingga mungkin sangat-amat terbiasa. Namun ukhti maupun akhi tidak baik jika
langsung menarik sebuah garis kesimpulan bahwa ianya teramat asing, kutegaskan
keterasingannya dalam haluan yang sarat akan makna hingga akhirnya mencoba
mengasingkan diri . Dia gadis yang sangat erat kaitannya dalam sebuah komitmen
hingga tak ada agenda dalam hidupnya mengenai sebuah 'poros opsi lain'. Baginya
mustahil untuk 'melewati' antrean resiko karena tak ayal ianya memang harus
'melalui'.
So agar mengatasi antrean resiko yang berpotensi nampak, gadis
asing itu berkesimpulan bahwa tak perlu ada kebimbangan dan dilema dalam
hidupnya selama ia yakin dengan Allah bersamanya karena satu hal dan lain hal
selalu memiliki sebab-akibat, tampakkanlah konsistensi diri.
***
"Baiklah, ia oke. Assalamu'alaikum"
Terdengar suara parau yang terkesan sangat tergesa-gesa di
seberang sana, sosok pria yang baru saja menutup sambungan telponnya karena
sesuatu hal.
Gadis hanya terdiam tanpa membalas salam yang baru saja
dilontarkan pria itu. Sedetik pun berlalu – ia terperanjat dari lamunannya hingga membuyarkan puing-puing
asa dalam fikirnya. Sontak saja ia mendengus pelan menyadari dirinya yang
sedari tadi mengacuhkan salam dari sosok pria di seberang sana. Tetapi tampak sebuah
keindahan yang terlukis
di raut wajahnya.
Gadis beranjak dari tempat duduknya dan berlalu begitu saja. Ia
kembali melanjutkan aktivitasnya yang sempat terhambat dan mengabaikan alasan
pria di seberang sana menutup sambungan telpon mereka. Namun sesaat setelah
jiwa dan jasadnya berpadu kembali, ia menyadari sebuah hak dimana ia harus mengetahui rangkaian
penjelasan akan hal itu.
***
Gadis P.O.V
Situasi kelas teramat ricuh, bagaimana
pun juga hal ini lumrah dialami oleh semua orang yang pernah mengenyam
pendidikan tepatnya ketika guru berhalangan hadir karena satu dan lain hal.
Kami bersorak-sorai sekaligus berucap syukur walau terkadang ini terasa aneh,
coba kalian renungkan bagaimana mungkin ada siswa yang kedapatan berbahagia
tatkala gurunya berhalangan hadir? Bukankah itu sama dengan merugikan dirinya
sendiri? Astaghfirullah, sungguh memprihatinkan.
Namun maklumkan saja jika hal demikian
terjadi, jawaban yang begitu tepat adalah karena kami berada dalam naungan ‘sistem
baru’ . Ya, mungkin tak perlu membahasnya lagi karena aku sudah sangat kenyang
terlebih sejak proses menggigit, mengunyah hingga menelannya. Sudah, semuanya
sudah terjalankan separuh bagian.
“Hoamm.. ngantuk banget” cetusku
sembari menaruh telapak tangan untuk
menutup bagian mulutku
yang sedikit terbuka dan menenggelamkan wajahku di antara kedua lipatan
lengan yang kubiarkan terdampar di atas meja.
“Begadang mulu ya dis” celoteh seorang
teman tepat di belakangku.
“Iya nih, mau gimana lagi kalo udah
kewajiban ya emang mesti begini.”
“Jomblo sok sibuk banget, haha”
“Ya begitulah yang dinamakan dengan
jomblo berkualitas.” Pungkasku dengan sedikit memberi tekanan pada ujung
kalimat yang kuucapkan lalu beranjak dari tempat duduk tanpa menghiraukan kelanjutan
celotehan-celotehan mereka yang masih mempersoalkan ‘jomblo’. #glekkk
***
Malam itu langit tampak pekat dengan hitamnya, tak ada seutas
angin pun berhembus. Di kamarnya, seperti biasa Gadis melakukan aktivitasnya
bak seorang pelajar SMA yang lumrah, ia terlihat sangat menikmati dan
mensyukuri atas hak dan kewajibannya meski tatkala terselip sedikit kepenatan
dan jenuh yang disertai dengan keluhan disana-sini namun hal itu dapat
diredamkan oleh Mama, sosok wanita yang jauh lebih cerdas dibalik kecerdasan
Gadis.
Gadis P.O.V
"Masih belajar teh? Ini sudah larut malam, lebih baik lanjut
besok saja." Terdengar suara ‘khas’ mama
yang berdiri di ambang pintu kamarku. Mengapa kukatakan ‘khas’? karena
setiap kata yang terucap selalu diimbangi dengan alunan intonasi bak sebuah
nada mayor-minor. Haha hal itu akan selalu dan tetap kurindu dari sosok
hebatnya.
"Ia Ma, tugas belum terselesaikan dan sangat sayang jika
harus ditunda" ucapku pelan tanpa mengalihkan pandangan ke arah buku-buku
yang berserakkan di sekelilingku.
Sedetik kemudian terdengar decakan
langkah yang kian lama tak terdengar dan—menghilang. Ya, sepertinya Mama
melangkahkan kakinya menjauhi area pribadiku tepatnya seraya mematikan beberapa
lampu di setiap sudut ruangan rumah, ia sudah sangat paham dan terbiasa akan
kebiasaanku yang satu ini -_-
***
Aku berusaha untuk membuka katup
mataku sesaat setelah terdengar lantunan ayat merdu sang muadzin yang mengajak
para umat agar segera melepas beberapa ikatan syaitan oleh basuhan air wudhu lalu
bersimpuh di hadapan-Nya sebelum fajar menyingsing. Setelah hampir tiga puluh
menit berlalu terlihat seberkas cahaya yang menelusuk ke setiap rongga jendela
kamarku, kala itu aku melangkahkan kakiku gontai untuk mengambil beberapa
potongan roti di meja pantry.
Hei, apa
maksudmu, huh? Kau sangat menyebalkan!
Sedetik kemudian kusentuh salah satu
tampilan tombol dalam layar ponselku sebagai simbol proses pengiriman pesan.
Kala itu perasaanku bak diterpa badai hebat memang. Terselip sepercik emosi dan
sempat berfikir ingin mencampakkan pria di seberang sana karena
ketidakjelasannya.
“Kau fikir kau siapa? Bisa datang dan
pergi sesuka hatimu ke dalam hidupku. Kau tidak boleh terluka(lagi), Gadis!
Tidak Boleh!!”
Terdapat penekanan intonasi di untaian
penghujung kalimat yang kubisikkan pada diriku sendiri, mungkin kutipannya
adalah ‘tidak boleh!’ . Haha saat ini aku merasa seperti wonder woman yang sangat kokoh akan pijakannya dan selalu berusaha
untuk tetap mengokohkannya.
Aku membaringkan tubuhku sejenak di
atas tempat tidur yang sejak dulu menjadi tempat favoritku untuk melepas
penatnya hidup dan meletakkan ponselku sembarang—entah dimana tepatnya benda
itu sekarang. Namun seketika sesuatu hal merusak kenyamananku, sesuatu – getaran – ya, tepatnya
getaran yang berasal dari ponselku. Aku lantas meraih benda itu dan mengulas
layarnya dengan ibu jariku dan disana tertera sebuah panggilan masuk.
“Hallo, ada apa lagi?” ucapku padanya
tanpa pendahuluan.
“Maaf ya, Dis. Tadi itu saya kaget,
maaf ya.” Terdengar suara yang tak asing lagi bagiku tapi kali ini dengan penyampaian
yang berbeda, intonasi – ya, dia terdengar lebih lembut dan memohon padaku.
“Oh, yasudahlah. Tak apa, tapi lain
kali tidak harus dengan tindakan seperti itu.”
“Iya, maaf. Tapi saya benar-benar
kaget, coba kamu fikir? Orang lain bisa, kenapa kamu gak bisa terima saya? Saya
fikir kamu belum membangun hal baru dengan orang baru setelahnya.”
“Maaf, justru karena beberapa
peristiwa yang telah saya lalui di masa lalu dengan benih-benih analisis
akhirnya mengarahkan saya pada sebuah kesimpulan. Dan saya tetap pada keputusan
awal.”
“Lalu apa kesimpulanmu? Semua
laki-laki S-A-M-A? Lantas jika memang pernyataan itu menjadi sebuah kesimpulan, kenapa kamu masih pilih-pilih, Dis?”
“Saya tidak sedang pilih-pilih karena
sejujurnya saat ini benar-benar tak ada pilihan, saya lebih memilih untuk
istiqomah.”
“Gadis, saya tahu mereka begini dan begitu,
tapi lihatlah! Kamu berhadapan dengan orang yang berbeda, lihatlah!”
“Tapi maaf, saya tetap tidak yakin.
Mungkin kamu belum berhasil tuk meyakinkan saya, maaf.”
“Oh baiklah, mulai saat ini saya tidak
akan membahas mengenai ini. Lagipula saya sudah cukup lelah dan malas karena
sepertinya memang tak ada peluang untuk saya.”
Aku hanya mendengus pelan mendengar
ucapannya yang begitu menyudutkan posisiku, hell! I hate this situation so
much!
***
Author P.O.V
Gadis duduk tertunduk di sudut kelas,
tampaknya dia malas bergabung dengan kegaduhan suasana kelas. Tercipta berjuta
asa dalam benaknya, namun – abstrak. Bahkan ianya begitu sulit tuk merajut satu
per satu asa hingga menjadi paduan
asa yang indah.
Lamunannya terhenti sejenak ketika
tersadar sesuatu menepuk bahunya. Ternyata salah satu teman gadis mencoba untuk
menginformasikan kabar kepulangan mereka yang lebih awal dari biasanya.
Wow! Baginya adalah suatu kebahagiaan
yang tak ternilai ketika bisa pulang lebih awal, ia lalu mengucap syukur dalam
batinnya lantas segera menyeret ransel miliknya dan bergegas meninggalkan
kegaduhan kelas. Namun satu hal yang ia petik dari beberapa hal adalah setiap orang berhak
untuk jatuh cinta satu sama lain tapi tidak berarti untuk bersama. Ya,
sepertinya kata-kata itu terus berputar di bawah kesadaran Gadis hingga
seseorang kembali membuyarkan lamunannya.
“Pulang ya dis, hati-hati.” Sosok itu
tampak begitu ramah pada Gadis.
“Ia oke.” Gadis menjawabnya singkat
sambil mempercepat langkahnya dan tak lupa ia menyunggingkan senyum yang
menyisakan lesung pipit di sudut kanan pipinya sebagai isyarat bahwa ia pun
bermaksud untuk menyampaikan hal yang sama pada sosok ramah itu.
***
Gadis P.O.V
“Assalamu’alaikum......” Kuucapkan
salam sembari membuka daun pintu depan rumahku yang dibiarkan sedikit terbuka.
“Wa’alaikumusalam, kok udah pulang
teh?” Mama menjawab salamku disertai dengan pertanyaan yang terkesan to the
point -,-
“Gurunya meeting ma,” jawabku singkat
dan berlalu memasuki kamarku.
Hening – suasana terasa begitu sunyi
karena terfokus pada satu titik pusat perhatian terlebih saat kami menonton
sebuah acara talkshow di televisi dan di sela-sela jeda iklan Mama memulai
perbincangan di antara kami.
“Bagaimana kondisi belajar?”
“Aman terkendali, Ma.” Balasku singkat
tanpa mengalihkan pandanganku dari titik pusat perhatianku, televisi.
“Selesaikan study dua tahun ini dengan
prestasi, harapan Bapak sih teteh bisa melanjutkan study ke jenjang yang lebih
tinggi lagi dan lagi.” Ucap Bapak yang tiba-tiba bergabung ke dalam
perbincangan aku dan Mama.
‘Lagi dan lagi’, kurasa kalimat itu
seketika menjalar ke seluruh tubuhku, menelusuk
ke setiap rongga dadaku, hingga tercampur dengan aliran darahku. Sepertinya jantungku berdegup
kencang ketika mendengar ucapan itu, bagaimana tidak aku hanya seorang siswi dengan
segala keterbatasan sedangkan di sisi lain terselip sebuah harapan yang
berbanding lurus dengan tuntutan. Bahkan pernyataan itu dapat diibaratkan
dengan sebuah perahu yang berlayar tiada henti dan tak pernah berlabuh.
“Bapak sih inginnya teteh jadi dosen.
Inginnya ...” lanjutnya setelah terpotong beberapa saat karena memandang
sejenak acara talkshow yang dimulai kembali.
Memang setidaknya ada seseorang yang
melanjutkan karir dalam kesamaan bidang, lebih tepatnya dunia pendidikan. Aku
merenung sejenak mencoba menguraikan kembali setiap kata yang terucap dari
mulutnya, seorang figur yang kuat sekokoh karang. Seluruh penghidupanku telah
dihidupi dengan jasa mulianya, dan semoga di masa depan aku pun dapat
menghidupkan aku dengan caraku sendiri.
Gadis P.O.V
Dia sempat mengancam untuk tidak lagi
berurusan denganku, namun siapa dirimu hey? Bagiku seorang ikwan yang baik
tidak semestinya berperilaku demikian. Aku tak sekalipun mencegahnya, kubiarkan
dia melakukan apa yang dia inginkan. Beberapa kali aku menghiraukan ancaman
itu, dan sekarang lihatlah! Apakah dia pergi dari hidupku? Jawabannya TIDAK!
Bahkan dia sama sekali tidak pergi dari hidupku. Sekarang terlihat jelas suatu
perbedaan yang mencerminkan persamaan di antara mereka. Bagaimanapun juga
mereka tetap satu, jadi apa yang kuduga sebelumnya ternyata tidak keliru bukan? Haha this isn’t judges ~
Konyol memang jika kembali mengingat segala sesuatu yang pernah, saat aku
memuji, mencinta, merindu, memohon, hingga menangis sekalipun dan kupungkas dengan membenci.
Sangat menggelikan dan berlebihan. Kini tak ada lagi asupan rasa bagiku,
kurasa cukup sampai disana. Sudahi semuanya, karena aku tak membutuhkannya
lagi. Aku hanya ingin bahagia bersama orang-orang yang membahagiakanku dengan
kualitas, bukan dengan kuantitas.
Continue …
Tidak ada komentar:
Posting Komentar