Kamis, 17 Desember 2015



Terlalu Muda

Assalamu'alaikum para mujahid Islam yang senantiasa berada dalam naungan kasih sayang Allah swt. Bagaimana hari ini? Semoga segala sesuatunya baik dan akan tetap baik. Saat ini aku hanya sekedar ingin berbagi kisah singkat dalam kehidupan gadis asing dalam balik khimarnya, tepatnya kukhususkan bagi para akhwat yang menjaga dirinya secara totalitas. 

***

Tak mudah memang, hanya sekedar mengucap satu atau dua buah kata pun terdengar sangat terbata-bata tatkala beberapa kalimat yang dibangun deretan kata tak sepadan dan terkesan janggal. Baginya cukup sulit tuk menunjukkan kata demi kata yang terdampar di dasar hatinya, ianya hanya menuangkan dalam sebuah tulisan. 

"Sungguh! Ini tak semudah yang kau fikir." ucapnya geram dalam hati.

Gadis asing itu memang terbiasa menutup diri akan dunia luar hingga mungkin sangat-amat terbiasa. Namun ukhti maupun akhi tidak baik jika langsung menarik sebuah garis kesimpulan bahwa ianya teramat asing, kutegaskan keterasingannya dalam haluan yang sarat akan makna hingga akhirnya mencoba mengasingkan diri . Dia gadis yang sangat erat kaitannya dalam sebuah komitmen hingga tak ada agenda dalam hidupnya mengenai sebuah 'poros opsi lain'. Baginya mustahil untuk 'melewati' antrean resiko karena tak ayal ianya memang harus 'melalui'. 

So agar mengatasi antrean resiko yang berpotensi nampak, gadis asing itu berkesimpulan bahwa tak perlu ada kebimbangan dan dilema dalam hidupnya selama ia yakin dengan Allah bersamanya karena satu hal dan lain hal selalu memiliki sebab-akibat, tampakkanlah konsistensi diri.

***

"Baiklah, ia oke. Assalamu'alaikum"
Terdengar suara parau yang terkesan sangat tergesa-gesa di seberang sana, sosok pria yang baru saja menutup sambungan telponnya karena sesuatu hal. 

Gadis hanya terdiam tanpa membalas salam yang baru saja dilontarkan pria itu. Sedetik pun berlalu – ia terperanjat dari lamunannya hingga membuyarkan puing-puing asa dalam fikirnya. Sontak saja ia mendengus pelan menyadari dirinya yang sedari tadi mengacuhkan salam dari sosok pria di seberang sana. Tetapi tampak sebuah keindahan yang terlukis di raut wajahnya.
Gadis beranjak dari tempat duduknya dan berlalu begitu saja. Ia kembali melanjutkan aktivitasnya yang sempat terhambat dan mengabaikan alasan pria di seberang sana menutup sambungan telpon mereka. Namun sesaat setelah jiwa dan jasadnya berpadu kembali, ia menyadari sebuah hak dimana ia harus mengetahui rangkaian penjelasan akan hal itu.

***

Gadis P.O.V

Situasi kelas teramat ricuh, bagaimana pun juga hal ini lumrah dialami oleh semua orang yang pernah mengenyam pendidikan tepatnya ketika guru berhalangan hadir karena satu dan lain hal. Kami bersorak-sorai sekaligus berucap syukur walau terkadang ini terasa aneh, coba kalian renungkan bagaimana mungkin ada siswa yang kedapatan berbahagia tatkala gurunya berhalangan hadir? Bukankah itu sama dengan merugikan dirinya sendiri? Astaghfirullah, sungguh memprihatinkan.

Namun maklumkan saja jika hal demikian terjadi, jawaban yang begitu tepat adalah karena kami berada dalam naungan ‘sistem baru’ . Ya, mungkin tak perlu membahasnya lagi karena aku sudah sangat kenyang terlebih sejak proses menggigit, mengunyah hingga menelannya. Sudah, semuanya sudah terjalankan separuh bagian.

“Hoamm.. ngantuk banget” cetusku sembari menaruh telapak tangan untuk menutup bagian mulutku yang sedikit terbuka dan menenggelamkan wajahku di antara kedua lipatan lengan yang kubiarkan terdampar di atas meja.

“Begadang mulu ya dis” celoteh seorang teman tepat di belakangku.

“Iya nih, mau gimana lagi kalo udah kewajiban ya emang mesti begini.”

“Jomblo sok sibuk banget, haha”

“Ya begitulah yang dinamakan dengan jomblo berkualitas.” Pungkasku dengan sedikit memberi tekanan pada ujung kalimat yang kuucapkan lalu beranjak dari tempat duduk tanpa menghiraukan kelanjutan celotehan-celotehan mereka yang masih mempersoalkan ‘jomblo’. #glekkk

***

Malam itu langit tampak pekat dengan hitamnya, tak ada seutas angin pun berhembus. Di kamarnya, seperti biasa Gadis melakukan aktivitasnya bak seorang pelajar SMA yang lumrah, ia terlihat sangat menikmati dan mensyukuri atas hak dan kewajibannya meski tatkala terselip sedikit kepenatan dan jenuh yang disertai dengan keluhan disana-sini namun hal itu dapat diredamkan oleh Mama, sosok wanita yang jauh lebih cerdas dibalik kecerdasan Gadis.


Gadis P.O.V 

"Masih belajar teh? Ini sudah larut malam, lebih baik lanjut besok saja." Terdengar suara khas mama yang berdiri di ambang pintu kamarku. Mengapa kukatakan ‘khas’? karena setiap kata yang terucap selalu diimbangi dengan alunan intonasi bak sebuah nada mayor-minor. Haha hal itu akan selalu dan tetap kurindu dari sosok hebatnya.

"Ia Ma, tugas belum terselesaikan dan sangat sayang jika harus ditunda" ucapku pelan tanpa mengalihkan pandangan ke arah buku-buku yang berserakkan di sekelilingku.

Sedetik kemudian terdengar decakan langkah yang kian lama tak terdengar dan—menghilang. Ya, sepertinya Mama melangkahkan kakinya menjauhi area pribadiku tepatnya seraya mematikan beberapa lampu di setiap sudut ruangan rumah, ia sudah sangat paham dan terbiasa akan kebiasaanku yang satu ini -_-

***

Aku berusaha untuk membuka katup mataku sesaat setelah terdengar lantunan ayat merdu sang muadzin yang mengajak para umat agar segera melepas beberapa ikatan syaitan oleh basuhan air wudhu lalu bersimpuh di hadapan-Nya sebelum fajar menyingsing. Setelah hampir tiga puluh menit berlalu terlihat seberkas cahaya yang menelusuk ke setiap rongga jendela kamarku, kala itu aku melangkahkan kakiku gontai untuk mengambil beberapa potongan roti di meja pantry.


Hei, apa maksudmu, huh? Kau sangat menyebalkan!
Sedetik kemudian kusentuh salah satu tampilan tombol dalam layar ponselku sebagai simbol proses pengiriman pesan. Kala itu perasaanku bak diterpa badai hebat memang. Terselip sepercik emosi dan sempat berfikir ingin mencampakkan pria di seberang sana karena ketidakjelasannya.

“Kau fikir kau siapa? Bisa datang dan pergi sesuka hatimu ke dalam hidupku. Kau tidak boleh terluka(lagi), Gadis! Tidak Boleh!!”
Terdapat penekanan intonasi di untaian penghujung kalimat yang kubisikkan pada diriku sendiri, mungkin kutipannya adalah ‘tidak boleh!’ . Haha saat ini aku merasa seperti wonder woman yang sangat kokoh akan pijakannya dan selalu berusaha untuk tetap mengokohkannya.

Aku membaringkan tubuhku sejenak di atas tempat tidur yang sejak dulu menjadi tempat favoritku untuk melepas penatnya hidup dan meletakkan ponselku sembarang—entah dimana tepatnya benda itu sekarang. Namun seketika sesuatu hal merusak kenyamananku, sesuatu – getaran – ya, tepatnya getaran yang berasal dari ponselku. Aku lantas meraih benda itu dan mengulas layarnya dengan ibu jariku dan disana tertera sebuah panggilan masuk.

“Hallo, ada apa lagi?” ucapku padanya tanpa pendahuluan.

“Maaf ya, Dis. Tadi itu saya kaget, maaf ya.” Terdengar suara yang tak asing lagi bagiku tapi kali ini dengan penyampaian yang berbeda, intonasi – ya, dia terdengar lebih lembut dan memohon padaku.

“Oh, yasudahlah. Tak apa, tapi lain kali tidak harus dengan tindakan seperti itu.”

“Iya, maaf. Tapi saya benar-benar kaget, coba kamu fikir? Orang lain bisa, kenapa kamu gak bisa terima saya? Saya fikir kamu belum membangun hal baru dengan orang baru setelahnya.”

“Maaf, justru karena beberapa peristiwa yang telah saya lalui di masa lalu dengan benih-benih analisis akhirnya mengarahkan saya pada sebuah kesimpulan. Dan saya tetap pada keputusan awal.”

“Lalu apa kesimpulanmu? Semua laki-laki S-A-M-A? Lantas jika memang pernyataan itu menjadi sebuah kesimpulan, kenapa kamu masih pilih-pilih, Dis?”

“Saya tidak sedang pilih-pilih karena sejujurnya saat ini benar-benar tak ada pilihan, saya lebih memilih untuk istiqomah.”

“Gadis, saya tahu mereka begini dan begitu, tapi lihatlah! Kamu berhadapan dengan orang yang berbeda, lihatlah!”

“Tapi maaf, saya tetap tidak yakin. Mungkin kamu belum berhasil tuk meyakinkan saya, maaf.”

“Oh baiklah, mulai saat ini saya tidak akan membahas mengenai ini. Lagipula saya sudah cukup lelah dan malas karena sepertinya memang tak ada peluang untuk saya.”

Aku hanya mendengus pelan mendengar ucapannya yang begitu menyudutkan posisiku, hell! I hate this situation so much!

***

Author P.O.V

Gadis duduk tertunduk di sudut kelas, tampaknya dia malas bergabung dengan kegaduhan suasana kelas. Tercipta berjuta asa dalam benaknya, namun – abstrak. Bahkan ianya begitu sulit tuk merajut satu per satu asa hingga menjadi paduan asa yang indah.

Lamunannya terhenti sejenak ketika tersadar sesuatu menepuk bahunya. Ternyata salah satu teman gadis mencoba untuk menginformasikan kabar kepulangan mereka yang lebih awal dari biasanya.

Wow! Baginya adalah suatu kebahagiaan yang tak ternilai ketika bisa pulang lebih awal, ia lalu mengucap syukur dalam batinnya lantas segera menyeret ransel miliknya dan bergegas meninggalkan kegaduhan kelas. Namun satu hal yang ia petik dari beberapa hal adalah setiap orang berhak untuk jatuh cinta satu sama lain tapi tidak berarti untuk bersama. Ya, sepertinya kata-kata itu terus berputar di bawah kesadaran Gadis hingga seseorang kembali membuyarkan lamunannya.

“Pulang ya dis, hati-hati.” Sosok itu tampak begitu ramah pada Gadis.

“Ia oke.” Gadis menjawabnya singkat sambil mempercepat langkahnya dan tak lupa ia menyunggingkan senyum yang menyisakan lesung pipit di sudut kanan pipinya sebagai isyarat bahwa ia pun bermaksud untuk menyampaikan hal yang sama pada sosok ramah itu.

 ***

Gadis P.O.V

“Assalamu’alaikum......” Kuucapkan salam sembari membuka daun pintu depan rumahku yang dibiarkan sedikit terbuka.

“Wa’alaikumusalam, kok udah pulang teh?” Mama menjawab salamku disertai dengan pertanyaan yang terkesan to the point -,-

“Gurunya meeting ma,” jawabku singkat dan berlalu memasuki kamarku.

Hening – suasana terasa begitu sunyi karena terfokus pada satu titik pusat perhatian terlebih saat kami menonton sebuah acara talkshow di televisi dan di sela-sela jeda iklan Mama memulai perbincangan di antara kami.

“Bagaimana kondisi belajar?”

“Aman terkendali, Ma.” Balasku singkat tanpa mengalihkan pandanganku dari titik pusat perhatianku, televisi.

“Selesaikan study dua tahun ini dengan prestasi, harapan Bapak sih teteh bisa melanjutkan study ke jenjang yang lebih tinggi lagi dan lagi.” Ucap Bapak yang tiba-tiba bergabung ke dalam perbincangan aku dan Mama.

‘Lagi dan lagi’, kurasa kalimat itu seketika menjalar ke seluruh tubuhku, menelusuk ke setiap rongga dadaku, hingga tercampur dengan aliran darahku. Sepertinya jantungku berdegup kencang ketika mendengar ucapan itu, bagaimana tidak aku hanya seorang siswi dengan segala keterbatasan sedangkan di sisi lain terselip sebuah harapan yang berbanding lurus dengan tuntutan. Bahkan pernyataan itu dapat diibaratkan dengan sebuah perahu yang berlayar tiada henti dan tak pernah berlabuh.

“Bapak sih inginnya teteh jadi dosen. Inginnya ...” lanjutnya setelah terpotong beberapa saat karena memandang sejenak acara talkshow yang dimulai kembali.

Memang setidaknya ada seseorang yang melanjutkan karir dalam kesamaan bidang, lebih tepatnya dunia pendidikan. Aku merenung sejenak mencoba menguraikan kembali setiap kata yang terucap dari mulutnya, seorang figur yang kuat sekokoh karang. Seluruh penghidupanku telah dihidupi dengan jasa mulianya, dan semoga di masa depan aku pun dapat menghidupkan aku dengan caraku sendiri.

Gadis P.O.V

Dia sempat mengancam untuk tidak lagi berurusan denganku, namun siapa dirimu hey? Bagiku seorang ikwan yang baik tidak semestinya berperilaku demikian. Aku tak sekalipun mencegahnya, kubiarkan dia melakukan apa yang dia inginkan. Beberapa kali aku menghiraukan ancaman itu, dan sekarang lihatlah! Apakah dia pergi dari hidupku? Jawabannya TIDAK! Bahkan dia sama sekali tidak pergi dari hidupku. Sekarang terlihat jelas suatu perbedaan yang mencerminkan persamaan di antara mereka. Bagaimanapun juga mereka tetap satu, jadi apa yang kuduga sebelumnya ternyata tidak keliru bukan? Haha this isn’t judges  ~

Konyol memang jika kembali mengingat segala sesuatu yang pernah, saat aku memuji, mencinta, merindu, memohon, hingga menangis sekalipun dan kupungkas dengan membenci. Sangat menggelikan dan berlebihan. Kini tak ada lagi asupan rasa bagiku, kurasa cukup sampai disana. Sudahi semuanya, karena aku tak membutuhkannya lagi. Aku hanya ingin bahagia bersama orang-orang yang membahagiakanku dengan kualitas, bukan dengan kuantitas.


Continue …